HASIL RIVIEW 3 TEORI KOMUNIKASI
REVIEW 3 TEORI KOMUNIKASI
Adaptive Structuration Theory (AST) dalam Komunikasi: Ulasan Detail dan Studi Kasus Kehidupan Sehari-hari
1. Definisi dan Asal Usul
Adaptive Structuration Theory (AST) adalah teori yang dikembangkan oleh DeSanctis dan Poole, berakar pada Structuration Theory milik Anthony Giddens. AST menyoroti bagaimana struktur sosial (aturan dan sumber daya) dan agen (individu atau kelompok) saling memengaruhi dalam proses interaksi, khususnya dalam konteks penggunaan teknologi dan komunikasi kelompok. Teori ini menolak pandangan teknosentris yang menganggap teknologi sebagai satu-satunya penentu perubahan organisasi, dan menekankan pentingnya faktor sosial dalam adaptasi teknologi.2. Inti dan Asumsi Dasar AST
a. Produksi
dan Reproduksi Struktur: Struktur sosial (aturan, norma, sumber daya)
diproduksi dan direproduksi melalui interaksi anggota kelompok.
b. Reciprocal
Influence: Teknologi memengaruhi struktur organisasi, dan sebaliknya,
struktur organisasi memengaruhi bagaimana teknologi digunakan dan diadaptasi.
c.
Appropriation: Proses di mana anggota
kelompok memilih, mengadopsi, atau memodifikasi aturan dan sumber daya yang
tersedia melalui teknologi.
d. Emergent
Outcomes: Hasil penggunaan teknologi tidak selalu dapat diprediksi, karena
dipengaruhi oleh dinamika kelompok dan cara mereka mengadaptasi teknologi
tersebut.
3. Aplikasi AST dalam Komunikasi
AST digunakan untuk memahami bagaimana komunikasi dalam kelompok, khususnya yang menggunakan teknologi (misal: groupware, sistem informasi, media sosial), membentuk dan dibentuk oleh struktur yang ada. AST menyoroti bahwa setiap kelompok bisa mengadopsi teknologi dengan cara yang berbeda, menghasilkan pola komunikasi dan hasil yang berbeda pula.4.
Studi Kasus Kehidupan Sehari-hari:
Implementasi Sistem Digital di Organisasi
Misalkan sebuah kantor pemerintah menerapkan sistem arsip digital untuk
menggantikan arsip manual. Berikut adalah penerapan AST dalam kasus ini:
a. Struktur
Awal: Sebelum digitalisasi, pegawai terbiasa dengan arsip kertas, memiliki
aturan kerja yang mapan, dan sumber daya yang terbatas pada fisik.
b. Pengenalan
Teknologi: Diperkenalkan sistem arsip digital (teknologi baru) yang
memiliki aturan penggunaan dan sumber daya baru (misal: software, pelatihan).
c.
Proses Appropriation: Pegawai mulai
belajar menggunakan sistem baru. Ada yang menerima dengan cepat, ada yang
mengalami resistensi karena kurang kompeten atau khawatir akan perubahan
rutinitas kerja.
d. Adaptasi
Struktur: Untuk mengatasi resistensi, organisasi mengadakan pelatihan,
mengubah aturan kerja, dan memberikan dukungan teknis. Pegawai yang awalnya
menolak, setelah pelatihan, mulai menerima dan bahkan mengusulkan fitur baru
pada sistem digital.
e. Emergent
Outcome: Sistem digital akhirnya digunakan secara efektif, namun dengan
penyesuaian aturan kerja, prosedur baru, dan pola komunikasi antar pegawai yang
berubah (misal: lebih banyak diskusi via email/chat dibanding tatap muka)7.
"Ketika individu dalam
organisasi menolak teknologi, hal ini dapat mengganggu pola interaksi dan
proses strukturisasi yang diharapkan... Ketidakpastian dan kecemasan tentang
kemampuan mengoperasikan teknologi baru menyebabkan resistensi. Pegawai yang
merasa kurang kompeten khawatir tidak dapat menjalankan tugas dengan baik
menggunakan sistem baru."
5. Studi Kasus Lain: Komunikasi Tim Virtual Global
D alam tim virtual global (Global Virtual Teams/GVTs), AST menjelaskan bagaimana anggota tim dari berbagai negara mengadopsi aturan komunikasi (misal: penggunaan Zoom, Slack, Google Docs). Setiap anggota membawa norma dan ekspektasi berbeda, sehingga proses adaptasi struktur komunikasi sangat dinamis. Hasil akhirnya, pola komunikasi dan relasi yang terbentuk bisa sangat berbeda antara satu tim dengan tim lain, tergantung bagaimana mereka mengaplikasikan dan menyesuaikan teknologi tersebut dalam interaksi sehari-hari.
6. Kesimpulan
AST memberikan kerangka yang kuat untuk memahami interaksi antara teknologi, struktur sosial, dan perilaku komunikasi dalam organisasi maupun kehidupan sehari-hari. Teori ini menegaskan bahwa perubahan tidak hanya didorong oleh teknologi, namun juga oleh cara manusia mengadopsi, menyesuaikan, dan memodifikasi aturan serta sumber daya yang ada dalam proses komunikasi.Spiral of Silence Communication Theory: Ulasan Detail dan Studi Kasus Kehidupan Sehari-hari
Definisi dan Inti Teori
Spiral of Silence Theory adalah teori komunikasi dan ilmu politik yang dikembangkan oleh Elisabeth Noelle-Neumann pada tahun 1974. Teori ini menyatakan bahwa individu cenderung menahan pendapatnya jika merasa pandangannya berada di pihak minoritas dalam suatu isu publik, terutama karena takut diisolasi secara sosial. Sebaliknya, mereka yang merasa opininya didukung mayoritas akan lebih berani mengungkapkan pendapatnya secara terbuka.Komponen utama dari teori ini meliputi:
- Isu
publik yang kontroversial
- Persepsi
tentang opini mayoritas dan minoritas
- "Quasi-statistical
sense": kemampuan intuitif individu untuk menilai iklim opini publik
- Ketakutan
akan isolasi sosial
- Kelompok
"hardcore": individu yang tetap menyuarakan pendapatnya meski
bertentangan dengan mayoritas.
Mekanisme Spiral of Silence
- Ketika
seseorang merasa opininya berbeda dari mayoritas, ia cenderung diam.
- Semakin
banyak orang yang diam, opini minoritas makin tidak terdengar.
- Akibatnya,
opini mayoritas terlihat semakin dominan, sehingga spiral keheningan makin
menguat.
- Media
massa berperan besar dalam membentuk persepsi tentang opini dominan,
sehingga mempercepat proses spiral ini.
Kritik terhadap Teori
Beberapa kritik menyebut teori ini kurang memperhitungkan variabel lain seperti karakter individu, konteks budaya, dan dinamika media baru (misal, media sosial).Studi Kasus Kehidupan Sehari-hari
|
Situasi |
Penjelasan |
|
Diskusi Kelas |
Dalam diskusi tentang topik kontroversial (misal:
perubahan iklim), siswa yang skeptis memilih diam karena mayoritas mendukung
satu pandangan. |
|
Media Sosial |
Seseorang enggan mengunggah dukungan pada isu politik
tertentu karena mayoritas teman di media sosial mendukung pihak lain. Ia
memilih diam agar tidak dikucilkan atau mendapat komentar negatif. |
|
Rapat Kantor |
Dalam rapat, mayoritas tim mendukung ide tertentu. Seorang
anggota yang memiliki pendapat berbeda memilih untuk tidak mengemukakan
argumennya karena takut dianggap tidak kompak. |
|
Acara Keluarga |
Saat berkumpul keluarga, seseorang menyembunyikan
pandangan politiknya yang berbeda agar tidak memicu perdebatan atau konflik. |
“Saya perhatikan semua orang mendukung Kandidat A di media
sosial, jadi saya tidak nyaman mengungkapkan dukungan saya pada Kandidat B.”
— Contoh nyata spiral of silence di media sosia.
Penelitian Terkini
Penelitian eksperimental di lingkungan universitas menunjukkan bahwa mahasiswa dengan opini yang dianggap "tidak sesuai" secara sosial cenderung melakukan self-censorship. Ketidaknyamanan mengungkapkan pendapat minoritas ini semakin kuat jika keheningan tidak diperhatikan atau direspons oleh lingkungan sekitar, sehingga norma sosial yang tampak semakin berat sebelah.Aplikasi di Dunia Virtual
Studi juga menunjukkan bahwa spiral of silence terjadi baik di dunia nyata maupun di dunia maya, namun media digital kadang memberi ruang lebih bagi minoritas untuk berbicara karena adanya anonimitas dan komunitas yang lebih beragam.Kesimpulan
Spiral of Silence Theory menjelaskan mengapa opini minoritas seringkali tidak terdengar dalam ruang publik, baik di dunia nyata maupun digital. Ketakutan akan isolasi sosial menjadi faktor utama, diperkuat oleh peran media dan dinamika kelompok. Studi kasus sehari-hari memperlihatkan fenomena ini dalam berbagai konteks, mulai dari diskusi kelas, rapat kantor, hingga interaksi di media sosial.Teori Komunikasi Intrapersonal: Ulasan Menyeluruh dan Studi Kasus Kehidupan Sehari-hari
Definisi dan Pengertian Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapersonal adalah proses komunikasi yang
terjadi dalam diri seseorang, di mana individu menjadi pengirim
sekaligus penerima pesan. Ini melibatkan dialog internal, refleksi, pemrosesan
informasi, dan pemberian makna terhadap pengalaman, perasaan, dan pikiran
sendiri. Komunikasi ini tidak memerlukan interaksi dengan orang lain dan
mencakup berbagai aktivitas mental seperti berpikir, mengingat, menilai, dan
memotivasi diri sendiri.
Menurut para ahli:
- Ronald
L. Applbaum menyatakan komunikasi intrapersonal sebagai kegiatan
berbicara dengan diri sendiri dan memberikan makna intelektual dan
emosional terhadap lingkungan sekitar5.
- Effendy
(2003) menegaskan bahwa komunikasi intrapersonal adalah proses
komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang, di mana individu
berperan sebagai komunikator dan komunikan sekaligus5.
- West
dan Turner (2012) menyebutnya sebagai dialog internal yang bahkan bisa
terjadi saat individu bersama orang lain6.
- Rakhmat
menguraikan proses komunikasi intrapersonal melalui empat tahap utama:
sensasi, persepsi, memori, dan berpikir2.
Proses dan Komponen Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapersonal melibatkan beberapa proses kognitif
dan psikologis:
- Sensasi:
Penerimaan rangsangan dari lingkungan melalui indera.
- Persepsi:
Penafsiran dan pemberian makna terhadap rangsangan.
- Memori:
Penyimpanan dan pengambilan informasi yang relevan.
- Berpikir:
Proses refleksi, evaluasi, dan pengambilan keputusan.
- Self-talk:
Dialog internal yang bisa berupa motivasi, pengingat, atau penilaian diri.
- Refleksi
diri: Evaluasi pengalaman dan perasaan untuk memahami diri sendiri.
Komunikasi intrapersonal adalah proses berkelanjutan yang
memengaruhi bagaimana seseorang memahami dirinya dan dunia sekitar.
Fungsi dan Peran Komunikasi Intrapersonal
- Pembentukan
Identitas: Membantu individu mengenal dan memahami diri sendiri
(self-concept).
- Pengelolaan
Emosi: Memproses perasaan dan mengendalikan reaksi emosional.
- Pengambilan
Keputusan: Mempertimbangkan pilihan dan konsekuensi secara internal.
- Motivasi
Diri: Memberikan dorongan dan penguatan positif melalui self-talk.
- Persiapan
Komunikasi Eksternal: Menyusun pesan dan strategi sebelum berinteraksi
dengan orang lain.
- Pengurangan
Kecemasan: Membantu menenangkan pikiran dan mengatasi stres.
Komunikasi Intrapersonal dalam Konteks Umum
Komunikasi intrapersonal tidak hanya terjadi dalam konteks
organisasi atau perusahaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, seperti
dalam keluarga, pendidikan, sosial, dan bahkan saat seseorang sendiri. Ini
merupakan dasar dari semua bentuk komunikasi lain karena pemahaman diri
memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan orang lain.
Studi Kasus Kehidupan Sehari-hari
Kasus 2: Mengelola Konflik PribadiSaat merasa kecewa dengan teman, seseorang mungkin berbicara dalam hati, menilai situasi, dan memutuskan apakah akan membicarakan masalah itu atau memaafkan. Komunikasi intrapersonal ini membantu mengelola emosi dan menentukan tindakan selanjutnya.
Kasus 3: Persiapan Presentasi di Tempat KerjaSeorang karyawan yang akan presentasi melakukan dialog internal untuk menyusun kata-kata, mengingat poin penting, dan menenangkan diri agar tampil percaya diri. Proses ini melibatkan refleksi dan evaluasi yang intens.
Kasus 4: Penggunaan Media Sosial dan Self-talk
Individu yang melihat postingan orang lain di media sosial mungkin melakukan komunikasi intrapersonal dengan membandingkan diri sendiri, yang bisa memicu self-talk negatif (“Saya kurang sukses”) atau positif (“Saya harus lebih semangat”). Ini menunjukkan bagaimana komunikasi intrapersonal memengaruhi kesejahteraan mental.
Kesimpulan
Komunikasi intrapersonal adalah proses fundamental yang
terjadi dalam diri setiap individu, melibatkan dialog internal, refleksi, dan
pengolahan informasi yang memengaruhi identitas, emosi, dan perilaku. Teori ini
bersifat umum dan menyeluruh, berlaku dalam berbagai konteks kehidupan
sehari-hari, tidak terbatas pada organisasi atau perusahaan. Studi kasus nyata
menunjukkan bagaimana komunikasi intrapersonal membantu individu dalam
pengambilan keputusan, pengelolaan emosi, dan persiapan interaksi sosial.
- Rakhmat,
“Teori Komunikasi Intrapersonal” (e-thesis IAIN Kediri)
- West
& Turner, Introducing Communication Theory (2012)
- Kompasiana, “Memahami Komunikasi Intrapersonal: Definisi dan Contohnya” (2025)
- Adaptive Structuration Theory, AISNet
- Adaptive structuration of communication in GVTs, UTUPub
- Adaptive Structuration Theory, commres.net
.jpeg)
Posting Komentar untuk "HASIL RIVIEW 3 TEORI KOMUNIKASI"